TANAMAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) SEBAGAI OBAT TRADISIONAL

Temulawak atau Curcuma xanthorrhiza Roxb merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai obat-obatan. Rimpang ini tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberacea) dan banyak ditemukan di hutan-hutan  daerah tropis. Temulawak memiliki banyak kandungan metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kesehatan.  Salah satu kandungan terbanyak yang dimiliki tumbuhan temulawak ialah pati. Pati temulawak mengandung kurkuminoid yang membantu proses metabolisme dan fisiologis organ badan. Selain itu temulawak mengandung minyak atsiri seperti limonina yang mengharumkan, sedangkan kandungan flavonoid pada temulawak berkhasiat menyembuhkan radang. Secara tradisional temulawak sudah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat untuk berbagai macam penyakit.Pada suku-suku tertentu temulawak ini digunakan untuk penyakit yang berbeda-beda. Penggunaan temulawak dalam pengobatan tradisional di antaranya sebagai pengobatan gangguan pencernaan, sakit kuning, keputihan, meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kesehatan.

Morfologi dan Taksonomi Temulawak

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberacea). Temulawak juga berkembang biak terutama pada tanah yang gembur hingga menjadi besar. Selain di dataran rendah, temulawak juga dapat tumbuh pada ketinggian tanah 1.500 meter di atas permukaan laut. Temulawak adalah bahan baku obat tradisional  dari keluarga Zingiberaceae.
Temulawak merupakan tanaman berbatang semu dengan bunga eksotis berwarna putih kemerahan dan memiliki rimpang relatif besar dengan warna irisan rimpang kuning cerah. Temulawak dapat tumbuh di daerah tanah gembur hutan tropis dengan ketinggian 5-1500 mreter dpl, tanah kering, perkarangan, ladang, dan padang alang-alang.

Klasifikasi temulawak antara lain sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae.
Kelas : Monocotyledonae.
Ordo : Zingiberales.
Keluarga : Zingiberaceae.
Genus : Curcuma.
Spesies : Curcuma xanthorrhiza Rox

Pemanfaatan Temulawak Secara Empiris

Temulawak telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai pewarna, bahan pangan, obat tradisional, memelihara kesehatan dan juga sebagai bahan obat seperti kurang nafsu makan, sembelit, ambeien, jerawat, diare, obat kejang-kejang, menghancurkan batu empedu, mengobati pengobatan penyakit ginjal dan hati,obat pegal linu, reumatik, radang sendi,   mengobati sariawan dan keputihan. Temulawak bersama dengan brotowali dan sambiloto dapat digunakan sebagai obat lambung.  Temulawak di Aceh dikenal dengan nama kunyit ketumbu, rimpangnya digunakan dalam ramuan untuk penambah darah, atau untuk mengatasi malaria, rimpang temulawak juga digunakan etnis Sakai di Bengkalis, Riau untuk penambah nafsu makan. Di Sunda dan Jawa untuk mengobati sakit kuning dan pencernaan. Masyarakat Bali menggunakannya sebagai obat lambung perih dan kembung. Masyarakat etnis madura menggunakan rimpang temulawak sebagai obat keputihan dan komunitas penggemar jamu gendong menggunakan rebusan rimpang temulawak sebagai penguat daya tahan tubuh dari serangan penyakit. Temulawak juga digunakan  sebagai obat jenis penyakit dalam dan menetralkan darah digunakan di Banjarbaru,Kalimantan.
Suku Kaili Ledo, Sigi, di Sulawesi Tengah dalam pengobatan sakit pinggang. Di Jawa Barat & Jawa Timur digunakan dalam pengobatan kencing batu serta penambah nafsu makan. Sedangkan suku Tengger kab.Probolinggo temulawak digunakan sebagai penurun panas.
Masyarakat Kecamatan Waringin Kabupaten Bondowoso banyak memanfaatkan famili Zingiberaceae sebagai obat yang memiliki 17 manfaat dan salah satu tanaman tersebut yaitu temulawak. Masyarakat Desa Keseneng Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang menggunakan temulawak sebagai obat penyakit saluran pencernaan, nafsu makan, pengobatan setelah penyakit tifus, pasca penyakit liver, menghilangkan rasa lelah. Sedangkan Masyarakat Banjar baru Kalimantan Selatan menggunakan temulawak sebagai obat demam, penyakit dalam, membersihkan darah, gangguan pernafasan, gangguan otot, gangguan kepala, dan masuk angin. Temulawak digunakan sebagai ramuan setelah melahirkan oleh masyarakat Enggano bersama dengan tanaman lainnya. Di Kampung Adat Urug Desa Urug Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor temulawak termasuk dalam bahan ramuan 40 rupa setelah melahirkan. Temulawak digunakan oleh masyarakat Desa Sukolilo untuk menjaga kesehatan, menghilangkan kelelahan dan menjaga kebugaran tubuh. Di sekitar Keraton
Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggunakan temulawak bersama lengkuas dan cabe sebagai jamu  agar calon pengantin tampil maksimal, jamu tersebut diberikan pada prosesi pra upacara pernikahan atau dimulai diminum seminggu sebelum upacara pernikahan. Dapat dikatakan bahwa temulawak merupakan tanaman yang sangat erat dengan pengobatan tradisional di Indonesia.  Dari hasil studi literatur yang didapatkan, penyakit yang ada diklasifikasikan mengikuti klasifikasi biomedis.
Klasifikasi tersebut merupakan sistem klasifikasi untuk mengelompokkan penyakit dan pengobatan tradisional dalam studi etnomedisin dan ditujukan untuk fokus pencarian obat baru untuk keperluan bioprospeksi.

Senyawa Kimia pada Temulawak

Temulawak terdiri dari beberapa komponen metabolit baik primer maupun sekunder. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hayani menyatakan bahwa kadar pati merupakan basil yang tertinggi  sebagai bahan baku industri makanan . Dalam bidang farmasi sebagai bahan pembantu industri tablet. Metabolit sekunder  pada temulawak antara lain  kurkumin. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa komposisi temulawak kering terdiri dari pati, air, protein, abu, lemak, dan kurkumin dengan kandungan berturut-turut senilai 48.59 %, 9.8 %, 3.3 %, 3.29%, 2.84%, dan
2.02%.30

Temulawak  mengandung senyawa kimia dengan unsur terbesar adalah pati, kurkumin dan minyak atsiri. Aktivitas yang dikandung oleh temulawak antara lain sebagai antibakteri, antivirus, antioksidan, antiinflamasi dan hepatoprotektor.

Pustaka
- Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Journal Homepage : https://journal.uniga.ac.id/index.php/JFB
- Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. (2015). Statistik Tanaman Biofarmaka
  Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia
- Kemala, S., Sudiarto, E.R, Pribadi, J.T., Yuhono, M., Yusron, L, Mauludi, M.,
  Raharjo, B., Maskito, Nurhayati, H. (2003). Studi Serapan, Pasokan dan
  Pemanfaatan Tanaman Obat di Indonesia. Laporan Teknis Penelitian Bagian
  Proyek Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. APBN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *