Tanaman Kelor, Khasiatnya sudah Tersohor

(Fitri Eka Lestari Dosen AKAFARMA PIM)

Tanaman Kelor (Moringa oleifera) adalah tumbuhan yang sangat familiar di Indonesia. Tanaman ini berasal dari kawasan sekitar Himalaya dan India, kemudian menyebar ke kawasan di sekitarnya sampai ke Benua Afrika dan Asia-Barat. Amerika dan New Zealand. Kelor biasanya disebut hanya sebagai Moringa (Tamil murungai), merupakan varietas yang paling banyak dibudidayakan dari genus Moringa. Kelor di Asia berasal dari Famili Moringaceae. Pohon itu sendiri agak ramping dengan cabang-cabang yang tumbuh terkulai sekitar 10 m tinggi, namun biasanya dipotong kembali setiap tahun untuk satu meter atau kurang, dan dibiarkan tumbuh kembali, sehingga polong dan daun tetapdalam jangkauan lengan.

Ada 13 spesies dari moringa yaitu Moringa arborea Verdc. ,Moringaborziana , Moringa concanensis , Moringa drouhardii , Moringa hildebrandtii , Moringa longituba , Moringa oleifera Lam. Horseradish Tree(northwestern India) , Moringa ovalifolia Moringa peregrina , Moringa pygmaea Moringa rivae , Moringa ruspoliana , Moringa stenopetala (Luthfiyah, 2012). Perbedaan antara satu spesies dengan lainnya adalah bentuk batang, dan geografis tempat tumbuh. Untuk daratan Asia, termasuk India dan Indonesia tanaman kelor yang tumbuh masuk dalam spesies Moringa oleifera. Hal ini disebabkan ciri-ciri fisik dan tempat tanaman tumbuh pada suhu dan lingkungan tropis di Benua Asia.Selama ini daun kelor hanya sering dimanfaatkan sebagai sayuran dan masakan tradisional oleh masyarakat. Di beberapa daerah daun kelor juga sering dihubungkan dengan unsur mistis.

Telah dilaporkan dari proyek penelitian WHO bahwa kelor mampu membantu mengatasi malnutrisi pada anak-anak di beberapa Negara Afrika dengan pemanfaatan serbuk daun kelor. Kelor selain mudah diperoleh dan tanpa biaya tinggi, mampu membantu recovery secara cepat pada anak-anak malnutrisi dibandingkan dengan ibu-ibu yang memberikan nutrisi modern seperti susu bubuk, minyak goreng dan gula. Di India kelor sudah dijadikan tanaman obat (Indian Herbs) sejak puluhan tahun, dan telah dilakukan analisa terhadap kandungan zat-zat bioaktif kelor serta fungsinya. Salah satu dari 49 phytonutrient yang telah dianalisa adalah beta carotene yang berfungsi sebagai phagocitotic activity.

Kandungan nutrisi daun kelor yang sangat tinggi menjadikan tanaman ini menjadi alternative bahan pangan kaya nutrisi. Fuglie (2005) melaporkan bahwa cukup dengan 8 g serbuk daun kelor sehari dapat memberikan kontribusi zat gizi kepada balita (1-3 tahun), yaitu 14% protein, 40% kalsium, 23% besi dan hampir semua kebutuhan vitamin A. Sedangkan dalam 100 gr bubuk serbuk daun kelor, dapat memberikan lebih dari sepertiga kebutuhan kalsium, besi, protein, tembaga, beleran dan vitamin B wanita usia subur. Kelor merupakan jenis bahan makanan yang dapat disukai dan dijadikan bagian dari susunan menu diet masyarakat di Senegal, padahal di Afrika Barat seringkali sangat sulit memperkenalkan makanan baru bagi masyarakatnya. Hal ini membuktikan bahwa kelor merupakan bahan makanan yang mudah diterima dan memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Tidak hanya daun kelor segar Serbuk daun kelor yang dihasilkan daengan cara pengeringan daun kelor dan dilanjutkan dengan dengan pemblenderan lebih mudah diaplikasikan, serbuk tersebut ternyata masih mengandung nilai nutrisi yang cukup tinggi, lebih tahan lama, lebih padat protein,mengandung mineral Fe dengan kadar tinggi dan mudah disuplementasikan dalam berbagai olahan pangan, misalnya cookies, mie, kerupuk, hingga brownies.

Daun kelor tidak hanya terbatas manfaat nya dari segi nutrisinya saja,namun juga berperan dalam mengatasi penyakit degenerative yang banyak terjadi dimasyarakat. Penelitian Ari Putu dan Kusmana.F (2010) menyatakan bahwa tepung daun kelor dan ekstrak daun kelor memiliki aktifitas antioksidan yang tinggi sehingga mampu mengatasi berbagai fakor penyebab terjadinya ateroskleroris atau pembentukan plak pada jantung yang beresiko meingkatkan kejadian penyakit jantung koroner. Daun kelor (Moringa oleifera) dalam berbagai penelitian diketahui dapat digunakan sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Moringa oleifera famili dari Moringaceae memiliki kandungan antioksidan diantaranya, saponin, alkaloids, fitosterols, tannins, fenolik dan flavonoid (Rajanandh et al., 2012). Quercetin yang merupakan flavonoid terbesar yang termasuk ke dalam kelas flavonol mempunyai efek antioksidan dapat mencegah peningkatan radikal bebas sehingga mengurangi perubahan LDL menjadi ox-LDL. Quercetin juga berfungsi sebagai antiinflamasi yang bekerja dengan cara mengeblok IkB kinase sehingga tidak terjadi degradasi IkB yang dapat mencegah aktifasi dari NF-kβ dengan demikian tidak terjadi peningkatan kadar TNF-α (Nair et al., 2006) penyebab terjadinya plak. Berdasarkan penelitian Ari Putu, ekstrak air daun kelor mampu menurunkan TNF-α penyebab pembentukan plak dan mampu mengurangi kerusakan sel endotel arteri coronaria.

Penelitian di beberapa negara juga menunjukkan serbuk daun kelor berperan dalam memperbaiki system imunitas tubuh, Hal ini tentu saja sangat bermanfaat untuk masyarakat, terutama masyarakan di negara berkembang yang mempunyai prevalensi penyakit infeksi yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan melalui berbagai penelitian dimana kandungan fitokimia daun kelor yang diekstraksi dengan air memiliki senyawa gallic ttannin, steroids, titerpenoid, flavonoid, saponin, antraquinones, catecol tannin, alkaloid dan reducing sugar. Kandungan fitokimia kelor ini dapat bermanfaat dalam meningkatkan titer antibodi (Sudha et al., 2010), meningkatkan konsentrasi leukosit, eritrosit, kadar haemoglobin (Hb), persentase neutrofil, bobot organ timus, dan limpa (Gupta et al., 2010). Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Hefni et al dimana ekstrak air daun kelor ternyata mampu berperan sebagai imunostimulator dari sel-sel imun hewan coba yang terinfeksi Salmonella typhi penyebab penyakit demam tipoid.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Hubungi kami via WhatsApp.
Powered by